Karakter Gameplay dan Story Game

Sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya mengenai karakter yang disenangi. Begitu pula pada Game Play dan Story Game, didalamnya terdapat beberapa karakter yang unggul dengan kemampuannya masing-masing serta tampilan yang berbeda-beda.

Assassin Creed

Story :

Desmond, seorang bartender biasa di tahun 2012, tiba-tiba diculik oleh sekelompok orang dari perkumpulan Abstergo. Desmond dibawa ke sebuah gedung rahasia, dimana ia bertemu dengan seorang profesor dan asistennya yang menginginkan membuka memorinya demi sebuah misi untuk mencari benda-benda keramat yang tersebar di dunia ini. Kedua orang tersebut percaya bahwa kunci dari pencarian itu berada di dalam otak si Desmond, oleh sebab itu mereka berdua membaringkan Desmond ke sebuah mesin khusus, bernama Animus.

Mesin ini berfungsi mengambil DNA memori si Desmond yang berisi tentang masa lampau dari kakek moyangnya. Leluhurnya itu bernama Altair, seorang anggota dari sebuah organisasi pembunuh bayaran ternama, Hashishin. Ia hidup di abad ke-12 di sekitar kota Jerusalem, pada era Perang Salib. Sehingga Desmond bisa berkelana ke masa lalu, dengan memerankan sang pembunuh bayaran, kakeknya sendiri. Semuanya dilakukan demi menyelidiki apa sesungguhnya benda keramat yang dicari-cari itu.

Gameplay:

Awal mula bermain, gamer masih berperan sebagai Desmond di masa depan, ia lalu berbaring diatas mesin Animus, lalu dalam sekian menit gamer akan kembali ke jaman Perang Salib di abad ke-12. Desmond kini berperan sebagai Altair, kakek moyangnya, bekerja sebagai agen pembunuh pada sebuah organisasi tak misterius dan ternama. Altair, digambarkan sebagai seorang pria Arab berkerudung dan berjubah serba putih, lengkap dengan bersenjatakan tinju tangan kosong, pedang panjang, pedang pendek, pisau tersembunyi di lengan dan pisau-pisau kecil untuk dilemparkan ke arah musuh.

Pada awal prolog, Altair gagal dalam tugas pertamanya sebagai pembunuh bayaran dan teman kerjanya tewas dan terluka berat, serta markas besar organisasinya yang terletak di pinggiran kota Masyaf yang ramai diserbu oleh musuh. Ia lalu diadili oleh Al Mualim, bos organisasinya, dieksekusi mati di depan teman-temannya. Tapi entah bagaimana ceritanya, pada level berikutnya Altair “dihidupkan” kembali oleh Al Mualim, semua senjata dan keahliannya dalam berakrobatik hilang semuanya.

Demi memulihkan nama baiknya dan menerima kembali senjata-senjata miliknya beserta keahlian akrobatiknya, ia diserahi tugas baru dari organisasi. Altair mulai dari awal karir lagi sebagai seorang pembunuh. Tugas barunya awalnya mudah lalu beranjak sedikit demi sedikit semakin sulit. Hadiah dari setiap keberhasilan tugas barunya Altair, keahliannya berakrobat, senjata-senjata miliknya akan kembali satu demi satu juga.

Mualim memerintahkan Altair untuk membunuh sembilan Pejabat elit Pasukan Templar, karena mereka dituduh akan merusak stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat selama Perang Salib berlangsung. Pekerjaan Altair dalam mendekati target-target utamanya tak bisa langsung begitu saja. Ia harus menyelidiki sendiri kapan dan dimana sang target utama itu berada di ruang dan waktu yang pas untuk dibunuh.

Penyelidikan Altair harus dilakukan sembunyi-sembunyi tanpa terdeteksi sama sekali, :
– Menguping pembicaraan orang-orang yang berada di lingkaran dalam sang target utama. Altair harus duduk di sebuah bangku terdekat untuk bisa mndengarkan pembicaraan tersebut.
– Menginterogasi orang yang kenal dekat dengan sang target utama, Altair harus mengikutinya sepanjang jalan, begitu berada di tempat yang sepi dari polisi {tentara yang mondar mandir di kota}. Ia akan terus memukuli sang korban hingga mengaku.
– Mencopet dokumen rahasia yang dibawa oleh orang yang berhubungan dekat dengan sang target utama. Altair harus diam-diam mndekatinya lalu mencopetnya dalam waktu singkat.

Mencari tambahan info bisa juga dilakukan oleh Altair dengan menyelesaikan side-side quest yang diberikan agen-agen koleganya yang berada di kota. Para agen lapangan itu hanya ada di tempat-tempat tertentu saja. Menamatkan atau tidak side-side quest tersebut tak berpengaruh besar pada quest utamanya Altair, membunuh sang target utama.

Kota-kota yang ada di Assasin Creed berupa Masyaf, Outside Masyaf, Jerusalem, Damaskus dan Acre. Semua kota-kota yang ada itu termasuk luas bagaikan ukuran kota yang sebenarnya, dimasa lalu. Tugas barunya Altair, membunuh 2 orang pejabat Templar yang kejam, yang satu berada di Damaskus dan yang satunya lagi berada di Jerusalem. Altair berangkat dari Masyaf, sebuah kota kecil yang ramai oleh penduduknya yang berlalu lalang dan menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Alat transportasinya berupa kuda, yang bisa dipakai hanya di luar kota saja, jika mau masuk kota kudanya ditinggal di luar kota.

Altair bebas memilih mau pergi kemana saja, apakah ke Damaskus dulu atau Jerusalem dulu. Setiap masuk ke wilayah baru, Altair wajib hukumnya untuk memanjat ke puncak tertinggi suatu bangunan khusus, yang terlihat dalam Minimap berupa lambang elang. Gamer bisa juga melihat secara manual, di puncak bangunan tinggi akan ada seekor elang yang sedang memutarinya. Gunanya gamer naik keatas puncak adalah demi melihat keseluruhan wilayah yang akan dieksplorasinya. Selain itu akan memunculkan quest-quest baru yang akan membantu penyelidikannya Altair. Di setiap wilayah kota, pasti akan muncul side quest unik, mengumpulkan semua koleksi bendera dari lambang tertentu yang tersebar di penjuru kota. Bonusnya jika sukses meng-koleksi semua bendera yang jumlahnya banyak yang fungsinya hanya untuk checkpoint aja.

Kota Damaskus, Jerusalem, dan Acre, selalu ada satu Kantor Cabang beserta seorang Supervisor dari organisasinya Altair juga. Ketiga kota tersebut sangat luas, dan akan terbagai dalam 3-4 sub-wilayah, dimana wilayah-wilayah baru itu akan terbuka seiring perkembangan cerita. Altair bebas menjelajahi setiap sudut kota, apakah itu sambil berjalan-jalan, berlari atau berlompatan diatas atap bangunan-bangunan yang ada. Namun ia harus waspada agar gerak geriknya itu tak mengundang polisi atau tentara setenpat, ada meteran wanted di system HUD Assasin Creed. Ia juga dilarang membunuh warga sipil tak berdosa, jika dipaksa membunuh, meteran health-nya akan berkurang dan akan kembali penuh dalam sekian menit kemudian jika ia berdiam diri.

Kota-kota itu dipenuhi oleh penduduk yang sibuk beraktivitas macam-macam, ada polisi-polisi yang terus mondar mandir sebagai petugas Kamtibmas, ada pula polisi yang diam lagi berjaga di tempat-tempat tertentu. Di kota, ada preman lalu lalang, jika dihabisi gamer akan mendapatkan tambahan senjata pisau-pisau kecil. Di ketiga kota tersebut pasti memiliki quest menyelamatkan orang miskin dari gangguan polisi. Altair harus mengalahkan semua polisi pengganggu tersebut dengan berbagai cara. Bonusnya jika berhasil, berupa Altair bisa menyamar menjadi seorang pelajar untuk mengelabui tentara atau polisi. Bonus satunya lagi, jika ia dikejar-kejar oleh polisi, akan ada sekelompok lelaki yang akan menghalangi para polisi tersebut. Meteran wanted level itu akan hilang jika Altair membunuh para polisi tersebut atau ia bersembunyi di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Banyak yang beranggapan game besutan Ubisoft ini kurang bagus, mulai dari tidak adanya save manual. Ya, gamer hanya disediakan autosave dan checkpoint yang didapat dari mengumpulkan bendera (terasa mengesalkan, kalau story sudah jauh dan mati dan harus mengulang sedikit lebih jauh. ckckckc). Tidak adanya teks terjemahan di dalam game, padahal Altair selalu melakukan percakapan setelah membunuh korbannya sebelum korbannya mati (sungguh aneh memang, gamer yang tidak mengerti bahasa inggris bagaimana ? -_- ). Film story atau scene yang tidak dapat di skip, yap! gamer harus selalu menyaksikan dan menunggu scene disetiap story (kalau lama kan membosankan juga :p).

Sekian tulisan ini, semoga bermanfaat😀.-

thanks to :

_http://kask.us/1446080

_http://assassinscreed.wikia.com

_google.com beserta translate nya

BONUS :

desmond

desmond

altair

altair

Hasan-i-Sabah

Hasan-i-Sabah Al Mualim

hidden blade

hidden blade

hidden blade

hidden blade

“The hidden blade has been a constant companion of ours over the years. Some would say it defines us – and they would not be entirely wrong. Many of our successes would not have been possible without it.”
―Altaïr Ibn-La’Ahad’s Codex, Page 13.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: